Rabu, 29 Februari 2012

Dakwah Wanita Untuk Wanita

Dakwah kepada Allah merupakan seruan yang paling luhur , tugas yang paling terhormat dan tujuan yang paling agung. Dakwah merupakan kedudukan yang pelakunya menepati singasana paling tinggi dan tidak bisa ditandingi siapapun kecuali orang yang dipilih langsung oleh Allah.
Dakwah dikalangan kaum wanita sepatutnya dilakukan oleh wanita, dikarenakan dilatarbelakangi oleh kemampuan wanita dalam memahami permasalahan dan cara penyelesaian permasalahan wanita, baik menyangkut psikologi , kondisi ekonomi, dan berbagai persoalan wanita lainnya yang tidak dialami oleh kaum pria.
Medan dakwah yang dimasuki tidak hanya berupa ceramah saja, dapat berupa penuangan ide – ide dan pelajaran dari publik, suri teladan yang sempurna, akhlak yang mulia, nasihat berharga, kecintaan yang melimpah ruah, persaudaraan yang tulus, kesungguhan dalam melakukan amal kebajikan,sabar,tabah, ikhlas dan ridho ketika di dera kesulitan.
Dengan konsep diatas ini, kaum wanita akan menemukan banyak medan dakwah yang variatif. Luas gerakan dan efektifitasnya pun sangat beragam. Setiap wanita, tidak saja mampu untuk memberikan pelajaran , mempresentasikan makalah atau berpartisipasi dalam forum kebudayaan, tapi juga dapat membangun kemitraan yang baik, memberikan saran dan nasihat yang tepat. Demikian pula keharusan bagi wanita untuk bagi wanita untuk melaksanakan suatu peran yang memang bisa ditanganinnya, menunaikan tugas dakwah dan turut serta dalam aktivitas sosial. Jadi tidak ada alasan bagi sebagian orang yang hanya menyibukan diri sepenuhnya akan pekerjaan rumah dan hal – hal kecil urusan rumah tangga , sehingga rumahnya merampas seluruh kehidupannya; mengasuh anak-anak dan suami lebih didahulukan ketimbang yang lainnya.
Maka punahlah keinginan wanita tersebut untuk memperhatikan persoalan yang menyangkut dien dan dakwah. Dalam sekejap saja jadilah ia, seakan-akan wanita biasa (bukan wanita da’iyah) yang membaur bersama masyarakat dengan melupakan kewajiban dan harapannya untuk membangun rumah tangga muslim yang shahih.
Bersikap seimbang antara kewajiban dakwah dan mengurus rumah tangga merupakan tuntutan . Wanita dai’yah yang sadar dan cerdik mesti mengatur hidupnya, serta bersikap seimbang dalam melaksanakan berbagai tanggung jawab. Wanita da’iyah tidak boleh hanya menyibukan diri dengan amal-amal dakwah namun meremehkan rumah tangga, pun tidak seharusnya wanita da’iyah hanya berkutat mengurusi rumah tangga dan anak-anak tapi melupakan tugas dakwah, dan risalah yang luhur. Wanita da’iyah menertibkan mana yang didahulukan dan menyusun segala kewajiban yang diperintahkan.

Setiap tahapan memiliki kondisi dan kepentingannya masing-masing. Seorang wanita da’iyah yang tengah mengurus anak kecil , pertama kali yang harus dia prioritaskan anak-anak hingga besar dan mengasuh mereka sampai matang. Sesudah itu, bila wanita da’iyah mempunyai waktu untuk tugas-tugas dakwah , maka hendaknya ia tidak meninggalkan tugas tersebut secara total sambil tetap mengurus anak-anak. Bila tidak demikian, maka ia mengalami kerugian cukup besar, baik dari segi pengetahuan maupun pahala.
Wanita da’iyah mempunyai kepekaan dan kesadaran akan kebutuhan umat dan dakwah, mengerahkan kemampuannya untuk membangkitkan setiap wanita muslimah , mendidik mereka agar komitmen terhadap ajaran diennya, serta memiliki kepedulian terhadap kondisi umat dan masyarakat muslim. Wanita yang mengetahui akan tugasnya dan akan menganngkat derajat dirinya kederajat ke kedudukan para da’iyah yang bekerja dan berjuang demi untuk membela dien yang agung ini.
Siapakah yang lebih baik ucapannya dari pada orang yang menyeru kepada Allah, melakukan amal shaleh seraya berkata : “ Aku sungguh – sungguh termasuk pada orang – orang yang menyerahkan diri .” ( Qs. Al-Fushshilat : 33).
Dakwah kepada Allah merupakan seruan yang paling luhur , tugas yang paling terhormat dan tujuan yang paling agung. Dakwah merupakan kedudukan yang pelakunya menepati singasana paling tinggi dan tidak bisa ditandingi siapapun kecuali orang yang dipilih langsung oleh Allah.
Dakwah dikalangan kaum wanita sepatutnya dilakukan oleh wanita, dikarenakan dilatarbelakangi oleh kemampuan wanita dalam memahami permasalahan dan cara penyelesaian permasalahan wanita, baik menyangkut psikologi , kondisi ekonomi, dan berbagai persoalan wanita lainnya yang tidak dialami oleh kaum pria.
Medan dakwah yang dimasuki tidak hanya berupa ceramah saja, dapat berupa penuangan ide – ide dan pelajaran dari publik, suri teladan yang sempurna, akhlak yang mulia, nasihat berharga, kecintaan yang melimpah ruah, persaudaraan yang tulus, kesungguhan dalam melakukan amal kebajikan,sabar,tabah, ikhlas dan ridho ketika di dera kesulitan.
Dengan konsep diatas ini, kaum wanita akan menemukan banyak medan dakwah yang variatif. Luas gerakan dan efektifitasnya pun sangat beragam. Setiap wanita, tidak saja mampu untuk memberikan pelajaran , mempresentasikan makalah atau berpartisipasi dalam forum kebudayaan, tapi juga dapat membangun kemitraan yang baik, memberikan saran dan nasihat yang tepat. Demikian pula keharusan bagi wanita untuk bagi wanita untuk melaksanakan suatu peran yang memang bisa ditanganinnya, menunaikan tugas dakwah dan turut serta dalam aktivitas sosial. Jadi tidak ada alasan bagi sebagian orang yang hanya menyibukan diri sepenuhnya akan pekerjaan rumah dan hal – hal kecil urusan rumah tangga , sehingga rumahnya merampas seluruh kehidupannya; mengasuh anak-anak dan suami lebih didahulukan ketimbang yang lainnya.
Maka punahlah keinginan wanita tersebut untuk memperhatikan persoalan yang menyangkut dien dan dakwah. Dalam sekejap saja jadilah ia, seakan-akan wanita biasa (bukan wanita da’iyah) yang membaur bersama masyarakat dengan melupakan kewajiban dan harapannya untuk membangun rumah tangga muslim yang shahih.
Bersikap seimbang antara kewajiban dakwah dan mengurus rumah tangga merupakan tuntutan . Wanita dai’yah yang sadar dan cerdik mesti mengatur hidupnya, serta bersikap seimbang dalam melaksanakan berbagai tanggung jawab. Wanita da’iyah tidak boleh hanya menyibukan diri dengan amal-amal dakwah namun meremehkan rumah tangga, pun tidak seharusnya wanita da’iyah hanya berkutat mengurusi rumah tangga dan anak-anak tapi melupakan tugas dakwah, dan risalah yang luhur. Wanita da’iyah menertibkan mana yang didahulukan dan menyusun segala kewajiban yang diperintahkan.

Setiap tahapan memiliki kondisi dan kepentingannya masing-masing. Seorang wanita da’iyah yang tengah mengurus anak kecil , pertama kali yang harus dia prioritaskan anak-anak hingga besar dan mengasuh mereka sampai matang. Sesudah itu, bila wanita da’iyah mempunyai waktu untuk tugas-tugas dakwah , maka hendaknya ia tidak meninggalkan tugas tersebut secara total sambil tetap mengurus anak-anak. Bila tidak demikian, maka ia mengalami kerugian cukup besar, baik dari segi pengetahuan maupun pahala.
Wanita da’iyah mempunyai kepekaan dan kesadaran akan kebutuhan umat dan dakwah, mengerahkan kemampuannya untuk membangkitkan setiap wanita muslimah , mendidik mereka agar komitmen terhadap ajaran diennya, serta memiliki kepedulian terhadap kondisi umat dan masyarakat muslim. Wanita yang mengetahui akan tugasnya dan akan menganngkat derajat dirinya kederajat ke kedudukan para da’iyah yang bekerja dan berjuang demi untuk membela dien yang agung ini.
Siapakah yang lebih baik ucapannya dari pada orang yang menyeru kepada Allah, melakukan amal shaleh seraya berkata : “ Aku sungguh – sungguh termasuk pada orang – orang yang menyerahkan diri .” ( Qs. Al-Fushshilat : 33).

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar